Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Representasi Cinta, Cita, dan Rasa Omah Klasik Kolonial Ery Susanto

    Ery Riyanto bersama istri
    Omah Klasik Kolonial Ery Susanto
    Ruang keluarga bergaya minimalis dengan sentuhan tegel motif
    Sudut ruang aktivitas sebagai area bersantai dan Limasan sebagai bangunan inti
    Balkon lantai atas bernuansa kolonial dengan view alam

    Model rumah klasik mungkin sudah jarang ditemukan di era seperti sekarang ini. Bahkan di desa pun juga telah banyak mengaplikasikan desain rumah minimalis maupun rumah modern. Kini desain rumah klasik lebih cenderung dikaitkan dengan ciri bangunan rumah peninggalan masa penjajahan dan dirasa ketinggalan jaman oleh sebagian orang. Namun apabila dicermati lebih dalam, desain rumah klasik tersebut justru mempunyai keunikan serta filosofi tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat.

    Tampilan mewah yang elegan, inilah ciri utama dari desain rumah klasik. Namun beberapa orang enggan menerapkan desain ini karena khawatir tampilan rumah jadi terlalu berlebihan dan justru terkesan ketinggalan jaman. Dengan perkembangan desain arsitektur saat ini, masyarakat tidak perlu khawatir apabila ingin menerapkan unsur klasik di dalam huniannya karena desain klasik tetap dapat diterapkan pada hunian modern. Inilah desain yang dikenal sebagai desain rumah klasik modern. Rumah klasik modern menggabungkan antara unsur klasik yang identik dengan kesan elegan dengan unsur modern yang simpel. Sentuhan ala bangunan-bangunan Jawa di era Kolonial masih tampak di desain modern klasik, namun hadir dengan tampilan yang lebih minimalis dan fresh.

    Hal tersebut juga menjadi alasan seorang Kombes. Pol. Ery Riyanto, SH. MH. dalam membangun sebuah hunian bagi keluarganya yang berlokasi di Gendingsari No. 89 RT 08 RW 15, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Dengan kecintaannya terhadap desain rumah di masa Kolonial Belanda yang begitu melekat di memori masa kecilnya yang kemudian berusaha untuk direpresentasikan ke dalam desain rumah yang ditempati bersama keluarga saat ini. “Masa kecil saya dulu banyak dihabiskan di lingkungan militer karena memang ayah saya adalah seorang anggota TNI dan kami sekeluarga juga harus ikut serta kemanapun ayah ditugaskan. Dulu semasa kecil saat ayah bertugas di kota Purworejo, saya sering sekali melihat bangunan rumah peninggalan Belanda yang nampak unik namun terlihat kokoh. Dari situ saya mulai menyukai desain bangunan rumah-rumah klasik, hingga saat membangun rumah ini saya ingin memasukkan unsur Kolonial di dalamnya. Dengan bantuan rekan arsitek spesialis jawa klasik kolonial, yakni mas Artha Hermawan, cita-cita saya bisa terwujud,” cerita Ery, sapaan akrabnya.

    Rumah dua lantai yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 520 m² tersebut nampak begitu unik dengan fasad ala rumah kampung khas Jawa klasik jaman dahulu. Suasana kawasan pedesaan yang masih cukup asri dan tenang sungguh akan memberikan kenyamanan dalam menjalani kehidupan bersama keluarga tercinta. Beberapa tanaman hias dan rumput hijau juga tumbuh subur di area depan teras meskipun tidak terlalu luas, sehingga nuansa sejuk dan alami khas pedesaan begitu terasa saat bersantai di area teras depan. Tembok pembatas bangunan juga tidak lepas dari sentuhan desain yang unik, dimana tembok tersebut dibuat tidak terlalu tinggi dengan kombinasi material batu bata ekspos ditata menyerong sehingga menampilkan fasad nan artistik. Sentuhan desain ala Kolonial dihadirkan pada bagian pintu gerbang utama, dimana pada rangka utamanya menggunakan pipa besi dengan sambungan-sambungan yang tidak menggunakan las, melainkan dengan sambungan pipa berbahan besi sehingga terkesan layaknya sebuah instalasi pipa air.

    Hunian milik keluarga pria yang bertugas di Akademi Kepolisian Semarang tersebut nampak seperti sebuah kuil dengan atap Limasan yang menjadi point of interest dari fasad depan bangunan. Meskipun tidak memiliki halaman yang luas pada sisi depan seperti sebuah rumah klasik Jawa pada umumnya, namun dengan penataan desain taman yang memaksimalkan space tersedia menjadikan tampilan teras depan semakin cantik. Memasuki bagian dalam hunian, terdapat sebuah ruangan yang difungsikan sebagai ruang aktifitas. Ruangan tersebut menggunakan inti bangunan berupa Limasan lengkap dengan soko utama dan dinding batu bata ekspos dipadukan dengan pintu gebyok kayu yang memperkuat konsep rumah Jawa di dalamnya. Pada salah satu sudut ruangan terdapat sebuah tempat tidur minimalis yang sering digunakan Ery untuk bersantai maupun beristirahat setelah melakukan kegiatan bercocok tanam. Pada sisi lantainya mengaplikasikan tegel motif klasik yang semakin mempercantik tampilan interior ruangan.

    Masuk ke dalam area ruang utama, konsep interior yang cukup kontras nampak begitu terasa dengan nuansa minimalis modern yang cukup mendominasi. Sebuah table set bergaya modern nampak tertata tepat di tengah ruangan sebagai ruang berkumpul bersama keluarga. Pada salah satu dinding yang menghubungkan dengan teras samping, terdapat sebuah kolam ikan dimana pada sisi dinding ruangan mengaplikasikan material kaca sehingga akan nampak ikan-ikan peliharaan pemilik rumah pada saat berada di ruang keluarga. Aplikasi tegel motif pada lantai menjadi ornamen pemanis yang menghadirkan sedikit unsur klasik di dalam ruangan tersebut. “Di ruang tengah ini memang sengaja dibuat dengan meminimalkan adanya sekat ruangan. Pada sisi atas juga dibiarkan tetap terbuka agar dapat memaksimalkan sirkulasi udara serta pencahayaan alami di dalam rumah. Maka dari itu di rumah ini sama sekali tidak menggunakan air conditioner karena memang sudah sejuk, bahkan ketika siang hari sekalipun,” ujar suami dari Yenny Octoviani Tampi tersebut.

    Menuju lantai atas dari rumah yang memiliki luas bangunan kurang lebih 340 m² tersebut, nampak beberapa ruangan yang belum difungsikan secara maksimal. Terdapat 2 ruangan dimana salah satu ruangan digunakan sebagai ruang karaoke pria yang hobi bernyanyi tersebut. Pada area lantai atas tersebut mempunyai 2 balkon terbuka dengan ornamen-ornamen klasik yang nampak cantik, dimana dari tempat tersebut nampak view persawahan nan asri serta jika beruntung dapat melihat langsung gagahnya gunung Merapi di sisi Utara. “Bisa dibilang rumah ini adalah cita-cita saya sejak dulu, karena memang ini adalah hasil jerih payah saya selama menjadi anggota kepolisian. Harapan saya ketika nanti saya sudah pensiun, saya dapat menikmati hari tua bersama keluarga di rumah ini. Menghabiskan waktu dengan bercocok tanam dan berkebun. Maka dari itu saya juga sudah menyiapkan lahan yang cukup luas di sisi belakang rumah ini sebagai lahan untuk berkebun nanti,” pungkas Ery mengakhiri perbincangan. Farhan-red

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain