Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Bersatunya Rumah & Alam OLAH ROSO EKO PRAWOTO

    Eko Prawoto bersama istri
    Bersatunya Rumah & Alam OLAH ROSO EKO PRAWOTO
    Area ruang tamu dengan dekorasi klasik
    Sudut ruang makan bernuansa hangat dan Ruang keluarga ala lesehan
    Kamar tidur utama dengan ranjang kuno

    Kecintaan seseorang terhadap suatu hal, bila diwujudkan akan menghasilkan sesuatu yang amat bernilai bahkan syarat makna. Kecintaan Eko terhadap alam dan rumah kampung contohnya. Bermula dari keprihatinan beliau kepada desain-desain rumah yang berada di kawasan pedesaan saat ini, dimana masyarakat lebih memilih konsep bangunan modern yang terkesan 'kekotaan'. Hal tersebut membuat hatinya tergerak untuk melestarikan dan mendirikannya sebagai hunian pribadi.

    Rumah yang beralamat di dusun Kedondong, Banjararum, Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta tersebut memang berbeda dengan rumah-rumah yang lain di sekitarnya, baik dari konsep maupun ornamen yang ada di dalamnya. Dituturkan oleh pria yang berprofesi sebagai dosen di Universitas Kristen Duta Wacana tersebut, bahwa dalam perjalanan membangun hunian tersebut tidak dikonsep maupun desain pasti mengenai bentuk bangunannya akan seperti apa nantinya.

    Rumah yang berdiri di atas lahan total seluas kurang lebih 1955 meter persegi ini terbagi menjadi 7 bangunan utama yang berdiri diantara sela-sela pohon berukuran besar disekelilingnya. Suasana pedesaan yang nyaman, damai, serta jauh dari hiruk pikuk keramaian kota begitu terasa ketika berada di area halaman rumah. Melihat sekeliling rumah, berbagai jenis pepohonan dan tumbuhan lainnya hadir sebagai perindang. Pepohonan ini mempunyai peran sebagai paru-paru alami dan menyaring polusi udara. Terasa begitu sejuk ketika menapakan kaki masuk ke dalam pekarangan dan taman serta kontur alam yang memiliki ketinggian berbeda di setiap sudut menjadi daya tarik tersendiri bagi hunian tersebut.

    Memasuki bagian dalam rumah yang telah ditempati selama kurang lebih 6 tahun tersebut, terdapat sebuah bangunan rumah adat daerah Paiton nampak berdiri apik bersanding dengan alam sekitarnya yang begitu asri. Bangunan tersebut merupakan bekas bongkaran rumah lawas yang diperoleh Eko dari tempat asalnya. Kesan otentik ditampilkan dari finishing kayu yang sengaja dibiarkan usang sehingga menimbulkan kesan rustic yang kental. Tepat berada di sebelahnya, terdapat sebuah bangunan limasan khas daerah Kokap yang berfungsi sebagai hunian utama. Di bagian depan rumah, berdiri sebuah gazebo kayu lengkap dengan ukiran-ukiran yang memiliki bentuk layaknya gazebo asli Madura. Gazebo tersebut digunakan sebagai area bersantai sembari menikmati suasana luar rumah nan sejuk dan asri.

    Memasuki bangunan utama hunian, desain khas ala rumah kampung yang sederhana benar-benar diwujudkan dengan aplikasi furnitur kayu klasik di dalamnya. Berbagai pernak-pernik vintage nampak menghiasi sudut-sudut ruangan yang semakin memperkuat konsep dekorasi yang diusung. Sebuah ranjang tidur besi bergaya klasik lengkap dengan tirai kelambu nampak begitu nyaman sebagai tempat beristirahat di malam hari. Paduan lantai yang mengaplikasikan tegel motif membuat nuansa ala rumah kampung begitu kental di area dalam rumah ini.

    Menyusuri jalan batu setapak menuju bagian rumah selanjutnya, terdapat sebuah bangunan sederhana khas rumah kampung yang biasa digunakan Eko untuk menjamu tamu yang datang ke rumahnya. Tepat di tengah ruangan terdapat sebuah table set kayu memanjang sebagai tempat duduk bagi tamu. Di atas meja tersebut, kurungan ayam berbahan bambu nampak menggantung sebagai cover lampu penerangan ruang. Pernak-pernik vintage dan barang-barang yang lazim ditemui di daerah pedesaan seperti luku atau alat untuk membajak sawah, tampah atau wadah dari anyaman bambu, hingga lesung menjadi dekorasi penghias ruangan tersebut. Ruangan tersebut juga sering digunakan Eko untuk menghabiskan waktu membaca dan sekedar mencari inspirasi.

    Di salah satu sudut area halaman rumah, nampak sebuah bangunan kayu dengan konsep yang cukup menarik. Bangunan tersebut di desain ala rumah panggung yang lokasinya berada di atas lahan dengan kemiringan yang cukup curam. Kombinasi material kayu dengan bukaan kaca lebar di sisi-sisi bangunannya membuat kesan luas dan lega ketika berada di dalamnya, ditambah dengan view persawahan hijau yang semakin memanjakan mata. Melangkah lebih ke bawah lagi, terdapat sebuah bangunan bekas lumbung padi yang berasal dari pulau Bawean sebagai mini museum berisi alat-alat pertanian dan perkakas tradisional. Hal tersebut merupakan cita-cita Eko Prawoto untuk dapat melestarikan teknologi jaman dahulu agar tidak punah tergerus zaman. Farhan-red

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain